Muslim di China: Mutiara Ramadhan 2026 dan Warisan Tradisi Tionghoa Muslim

fayudistira March 12, 2026 10 min read 4 views

Di balik gemerlap arsitektur modern Beijing dan hiruk-pikuk perdagangan Shanghai, tersembunyi mutiaramutiara Islam yang telah bersinar selama lebih dari seribu tahun di tanah Tiongkok. Saat Ramadhan 2026 tiba, komunitas Muslim pribumi di China akan kembali menghidupkan tradisi turun-temurun yang memadukan nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal Tionghoa. Mereka adalah etnis Hui, Uighur, serta komunitas di Yunnan dan Hainan—bukti nyata bahwa Islam dan budaya Tiongkok dapat berpadu dalam harmoni yang indah. Artikel ini mengajak Anda menyelami kekayaan tradisi Ramadhan mereka, memahami warisan leluhur, dan mempelajari kosakata Mandarin yang mewarnai bulan suci di negeri tirai bambu.

Jejak Islam di Negeri Confucius: Sejarah yang Terlupakan

Banyak yang tidak mengetahui bahwa Islam telah hadir di China jauh sebelum berdirinya Kerajaan Majapahit di Nusantara. Pada abad ke-7 M, para pedagang Arab dan Persia mulai berdatangan melalui Jalur Sutra, jalur perdagangan legendaris yang menghubungkan Timur dan Barat . Mereka tidak hanya membawa sutra dan rempah, tetapi juga risalah Islam yang kemudian berakar di berbagai wilayah.

Pada masa Dinasti Tang (618-907 M), seorang sahabat Nabi bernama Sa'ad bin Abi Waqqas disebut-sebut pernah diutus ke China dan mendirikan masjid pertama di Kanton (Guangzhou) . Sejak saat itu, komunitas Muslim tumbuh dan berkembang, berasimilasi dengan penduduk lokal, hingga melahirkan generasi Muslim yang secara fisik dan budaya melebur dalam masyarakat Tiongkok, namun tetap teguh memegang ajaran Islam. Kini, diperkirakan terdapat 20-25 juta Muslim di China, jumlah yang lebih besar dari populasi beberapa negara Muslim di Timur Tengah .

Empat Mutiara Muslim Pribumi China

1. Etnis Hui: Muslim Berwajah Tionghoa, Berhati Islam

Etnis Hui adalah kelompok Muslim terbesar di China, dengan populasi lebih dari 10 juta jiwa yang tersebar di provinsi Ningxia, Gansu, Qinghai, dan Henan . Keunikan mereka terletak pada penampilan fisik dan bahasa yang nyaris tidak bisa dibedakan dari etnis Han mayoritas. Mereka berbahasa Mandarin dan berpakaian seperti orang Tionghoa pada umumnya. Namun, identitas Islam mereka tampak dalam praktik sehari-hari: pria mengenakan peci putih (白帽 bái mào) saat ke masjid, wanita muslimah menggunakan jilbab, dan mereka sangat ketat dalam memilih makanan halal (清真 qīng zhēn) .

Warisan Tradisi:
Etnis Hui mewarisi tradisi kaligrafi Sini, yaitu seni menulis ayat Al-Qur'an dengan goresan kuas khas Tionghoa. Kaligrafi ini menghiasi dinding masjid dan rumah-rumah Muslim, menjadi simbol indah perpaduan dua budaya . Pada Ramadhan 2026, masjid-masjid tua di Xi'an seperti Masjid Raya Xi'an yang berdiri sejak Dinasti Tang akan kembali dipenuhi jemaah yang menjalankan salat tarawih di bawah atap bergaya pagoda yang unik.

2. Etnis Uighur: Muslim dari Wilayah Barat

Berbeda dengan Hui, etnis Uighur bermukim di Xinjiang, China barat. Mereka secara fisik mirip orang Asia Tengah atau Turkik, berbahasa Uighur (rumpun Turkik), dan memiliki tradisi Islam yang sangat kuat. Kuliner mereka yang kaya rempah menjadi ikon kuliner halal di China, seperti sate domba (羊肉串 yáng ròu chuàn) , pilaf (抓饭 zhuā fàn) , dan aneka roti naan .

Warisan Tradisi:
Tradisi musik dan tari Uighur yang dinamis sering mengiringi perayaan Idul Fitri. Di kota Kashgar, bazar malam Ramadhan menjadi pusat keramaian, di mana aroma kebab dan manisan khas memenuhi udara. Pada Ramadhan 2026, diperkirakan tradisi "Meshrep" , pertemuan sosial yang diisi dengan nyanyian, tarian, dan diskusi keagamaan, akan kembali digelar di komunitas-komunitas Uighur sebagai bagian dari mempererat silaturahmi .

3. Muslim Yunnan: Harmoni di Negeri Seribu Gunung

Provinsi Yunnan di China selatan menyimpan permata Islam yang telah ada sejak zaman Dinasti Yuan. Di kota kuno Najiaying, sekitar 8.000 Muslim dari etnis Hui tinggal berdampingan dengan pemeluk agama lain dalam harmoni yang indah .

Warisan Tradisi:
Tradisi Ramadhan di Yunnan sangat khas dengan sajian mie beras (米粉 mǐ fěn) dan masakan sapi. Namun yang paling istimewa adalah tradisi tabuh bedug (鼓声 gǔ shēng) untuk membangunkan sahur, sebuah praktik yang mirip dengan tradisi di Nusantara . Bazar Ramadhan tahunan di Najiaying bahkan menjadi daya tarik wisata, dikunjungi tidak hanya oleh Muslim tetapi juga warga nonmuslim yang penasaran dengan keunikan Ramadan ala Tionghoa.

4. Muslim Hainan (Sanya): Keturunan Pelaut Muslim

Di ujung selatan China, Pulau Hainan menyimpan komunitas Muslim unik di Kota Sanya. Mereka secara resmi digolongkan sebagai etnis Hui, namun secara historis adalah keturunan pelaut Muslim dari Champa (Kamboja/Vietnam) dan Semenanjung Malaya yang terdampar berabad-abad lalu . Di desa-desa seperti Huixin dan Huijie, masjid-masjid sederhana berdiri di tepi pantai, dan suara azan bergema di antara ombak.

Warisan Tradisi:
Komunitas ini mewarisi tradisi maritim dan kuliner laut khas Melayu-Champa. Pada Ramadhan 2026, mereka akan menjalankan ibadah dengan nuansa tropis yang kental, berbuka puasa dengan hidangan laut segar sambil menikmati senja di pesisir Hainan.

Mutiara Ramadhan 2026: Tradisi yang Tetap Lestari

Ramadhan 2026 diprediksi akan jatuh sekitar bulan Februari-Maret dalam kalender Masehi (bergantung pada rukyatul hilal). Bagi Muslim Tionghoa, bulan suci ini selalu menjadi momen istimewa untuk merefleksikan iman sekaligus melestarikan warisan leluhur. Berikut tradisi-tradisi yang akan kembali hidup:

1. Menyambut Ramadhan dengan "Bedug" dan "Lampion"

Tradisi menyambut Ramadhan di berbagai komunitas Muslim China sering diiringi dengan penerangan lampion-lampion merah di sekitar masjid dan perkampungan. Di beberapa daerah seperti Yunnan, tabuh beduk (鼓 ) menjadi penanda dimulainya bulan puasa. Suara beduk yang berirama khas berbaur dengan lantunan ayat suci, menciptakan atmosfer spiritual yang khas.

2. Sahur dan Berbuka dengan Sentuhan Lokal

Menu sahur dan berbuka Muslim Tionghoa adalah perpaduan unik antara cita rasa lokal dan kebutuhan nutrisi saat berpuasa. Beberapa hidangan khas yang akan hadir di meja-meja mereka pada Ramadhan 2026:

  • Mi Tarik Lanzhou (牛肉拉面 niú ròu lā miàn) : Mi kenyal dengan kuah kaldu sapi bening yang gurih, menjadi favorit saat sahur karena mengenyangkan.

  • Kue Minyak (油香 yóu xiāng) : Adonan tepung yang digoreng hingga mengembang, mirip dengan roti canai. Biasanya disantap dengan teh manis hangat saat berbuka.

  • Kurma Merah Rebus (红枣汤 hóng zǎo tāng) : Minuman manis dari kurma merah khas China, dipercaya dapat mengembalikan energi setelah seharian berpuasa.

  • Sate Domba Xinjiang (羊肉串 yáng ròu chuàn) : Di bazar Ramadhan, aroma sate domba berbumbu khas Xinjiang selalu menggoda.

3. I'tikaf di Masjid-Masjid Bersejarah

Sepuluh malam terakhir Ramadhan, Muslim Tionghoa akan memadati masjid-masjid untuk i'tikaf. Beberapa masjid bersejarah yang akan menjadi pusat kegiatan pada Ramadhan 2026 antara lain:

Nama MasjidLokasiKeunikan
Masjid NiujieBeijingMasjid tertua di Beijing (996 M), memadukan arsitektur Dinasti Liao dengan kaligrafi Arab.
Masjid Raya Xi'anXi'anDibangun pada Dinasti Tang, masjid ini berbentuk kompleks bergaya Tiongkok klasik dengan halaman dan gazebo.
Masjid HuaishengGuangzhouDisebut juga "Masjid Menara Suar", konon dibangun oleh sahabat Nabi, Sa'ad bin Abi Waqqas.
Masjid DongguanXiningPusat kegiatan Muslim Hui di Qinghai, terkenal dengan arsitektur hijau dan putih yang mencolok.

Idul Fitri: Perayaan Kemenangan dengan Sentuhan Tionghoa

Saat 1 Syawal tiba, Muslim Tionghoa merayakan Idul Fitri atau 开斋节 (Kāi zhāi jié) dengan penuh sukacita. Beberapa tradisi unik yang akan mewarnai perayaan Idul Fitri 2026:

1. Salat Ied di Lapangan Terbuka

Di pagi hari, ribuan Muslim berbondong-bondong menuju lapangan terbuka atau masjid besar untuk melaksanakan salat Ied. Pemandangan ribuan peci putih dan jilbab warna-warni di tengah arsitektur Tionghoa menjadi panorama yang mengharukan.

2. Halalbihalal dan Saling Memaafkan

Setelah salat, tradisi saling bermaafan dilakukan dengan penuh kehangatan. Mereka mengucapkan "Kāizhāijié kuàilè" (开斋节快乐) atau "Selamat Idul Fitri", kemudian bersalaman dan bermaaf-maafan. Nilai saling memaafkan ini sejalan dengan ajaran Islam dan budaya Tionghoa yang menjunjung tinggi harmoni.

3. Angpao Lebaran (压岁钱 Yā suì qián)

Salah satu tradisi paling khas adalah pemberian amplop merah berisi uang kepada anak-anak, yang dalam bahasa Mandarin disebut 压岁钱 (Yā suì qián) . Amplop merah ini, yang biasanya identik dengan Imlek, menjadi simbol berbagi kebahagiaan dan berkah di hari kemenangan. Anak-anak akan bersuka cita menerima amplop dari orang tua dan kerabat.

4. Ziarah Kubur (扫墓 Sǎo mù)

Setelah bersilaturahmi, banyak keluarga Muslim yang melanjutkan tradisi ziarah kubur ke makam leluhur. Mereka membersihkan makam, membacakan doa, dan menaburkan bunga. Tradisi ini mirip dengan prakti Ceng Beng (清明) dalam budaya Tionghoa, namun diisi dengan nilai-nilai Islam.

Kosakata Mandarin untuk Ramadhan dan Idul Fitri

Bagi Anda yang ingin berinteraksi dengan saudara Muslim Tionghoa atau sekadar memperkaya wawasan, berikut kosakata penting yang akan sering terdengar selama Ramadhan 2026:

Istilah IndonesiaHanzi (Mandarin)PinyinKonteks Penggunaan
Ramadhan斋月Zhāi yuè"Bulan Puasa", istilah paling umum dan formal.
Berpuasa封斋Fēng zhāi"Menutup puasa" (memulai puasa).
Sahur封斋饭Fēng zhāi fànMakan sebelum fajar.
Berbuka开斋Kāi zhāi"Membuka puasa".
Masjid清真寺Qīng zhēn sìQīng zhēn = halal/suci,  = kuil/pura.
Halal清真Qīng zhēnKata kunci penting untuk mencari makanan.
Al-Qur'an古兰经Gǔ lán jīngKitab suci umat Islam.
Salat Tarawih特拉威哈拜Tè lā wēi hā bàiSalat malam khusus Ramadhan.
Idul Fitri开斋节Kāi zhāi jié"Festival Buka Puasa".
Selamat Idul Fitri开斋节快乐Kāizhāijié kuàilèUcapan standar.
Zakat Fitrah开斋捐Kāi zhāi juānSedekah wajib sebelum Idul Fitri.
Ketupat粽子Zòng ziMeski aslinya makanan Imlek, ketupat (dengan isian halal) juga disajikan saat Lebaran oleh sebagian Muslim Tionghoa.

Fakta Unik: Mutiara yang Mungkin Belum Anda Tahu

  1. Masjid Tertua di China: Masjid Huaisheng di Guangzhou diperkirakan berdiri pada abad ke-7 M, hanya beberapa dekade setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Menara azannya yang tinggi konon digunakan sebagai mercusuar bagi kapal-kapal dagang di masa lalu .

  2. Kaligrafi Sini: Seni kaligrafi Arab khas China ini menggunakan kuas dan tinta khas Tionghoa, menciptakan gaya yang sangat khas. Pada Ramadhan, banyak masjid memajang karya kaligrafi Sini bertema ayat-ayat puasa .

  3. Ramadhan dan Imlek: Kadang-kadang Ramadhan bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Imlek. Pada momen langka ini, suasana "double festival" menciptakan harmoni yang indah: lampion merah Imlek berpadu dengan hiasan khas Ramadhan di perkampungan Muslim .

  4. Kurma dari Timur Tengah, oleh-oleh dari China: Meski China bukan penghasil kurma, kurma kering menjadi komoditas penting selama Ramadhan. Kurma-kurma ini diimpor dari Timur Tengah, lalu dikemas dengan kemasan khas Tionghoa sebagai oleh-oleh Lebaran .

Menjaga Warisan di Tengah Modernitas

Di tengah arus modernisasi yang deras, Muslim Tionghoa terus berupaya menjaga warisan leluhur mereka. Generasi muda diajarkan tidak hanya tentang Islam, tetapi juga tentang sejarah dan budaya leluhur yang telah berakulturasi selama berabad-abad. Komunitas-komunitas Muslim di Ningxia, Xinjiang, Yunnan, dan Hainan aktif mengadakan festival budaya, seminar, dan pameran kaligrafi Sini untuk memperkenalkan kekayaan tradisi mereka kepada dunia.

Pada Ramadhan 2026, diharapkan semakin banyak wisatawan Muslim dari Indonesia dan negara lain yang berkunjung ke China untuk merasakan langsung pengalaman Ramadhan yang unik ini. Dengan visa yang semakin mudah dan fasilitas ramah Muslim yang terus berkembang, China semakin terbuka sebagai destinasi wisata halal.

Pesan untuk Pembaca

Saudara-saudara Muslim di China adalah bukti bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, yang dapat tumbuh subur di berbagai belahan dunia, dalam berbagai lapisan budaya. Mereka adalah mutiara yang bersinar di tengah lautan peradaban Tionghoa. Ketika kita menikmati hidangan berbuka di rumah masing-masing pada Ramadhan 2026 nanti, luangkan waktu sejenak untuk mendoakan mereka yang menjalankan ibadah di bawah naungan atap pagoda, dengan lantunan ayat suci yang bergema di lorong-lorong kota kuno.

Selamat menyambut Ramadhan 2026! Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari keindahan harmoni yang mereka jaga.
Ramadhan Mubarak!
斋月吉庆 (Zhāi yuè jí qìng)!

Pertanyaan Umum (FAQ)

Q: Apakah Muslim di China mengalami kesulitan menjalankan ibadah puasa?
A: Secara umum, Muslim di China dapat menjalankan ibadah puasa dengan leluasa, terutama di daerah-daerah dengan populasi Muslim signifikan seperti Ningxia, Xinjiang, dan kantong-kantong Muslim di kota besar. Masjid-masjid tetap buka dan aktivitas keagamaan berjalan seperti biasa.

Q: Apakah mudah mencari makanan halal di China saat Ramadhan?
A: Di kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, Guangzhou, dan Xi'an, terdapat kawasan Muslim (Muslim Quarter) yang menjual berbagai makanan halal. Di restoran-restoran umum, carilah tulisan 清真 (Qīng zhēn) yang menjamin kehalalan makanan. Saat Ramadhan, bazar-bazar makanan halal semakin mudah ditemukan.

Q: Apa perbedaan utama antara etnis Hui dan Uighur?
A: Perbedaan utama terletak pada asal-usul, bahasa, dan budaya. Etnis Hui secara fisik dan bahasa seperti orang Tionghoa Han (berbahasa Mandarin), sementara etnis Uighur secara fisik mirip orang Asia Tengah dan berbahasa Uighur (rumpun Turkik). Keduanya sama-sama Muslim.

Q: Apakah ada program wisata Ramadhan ke China untuk Muslim Indonesia?
A: Beberapa biro perjalanan wisata di Indonesia mulai menawarkan paket wisata Ramadhan dan Idul Fitri ke China, khususnya ke Xi'an (Masjid Raya dan Muslim Quarter), Beijing (Masjid Niujie), dan Shanghai (Masjid Huxi). Pastikan untuk memilih biro perjalanan yang memahami kebutuhan wisatawan Muslim.

Share this article:
fayudistira

Author

Related Articles

Selamat Tahun Kuda Api! Belajar Kosakata Mandarin Biar Imlek 2026 Makin Cetar!

Sambut Tahun Kuda Api 2026 dengan kosakata Mandarin yang pas! Pelajari ucapan, istilah angpao, dan shio. Dijamin bikin perayaan Imlek-mu lebih berkesan....

Pendaftaran Baru!